SELAMAT DATANG DI blog pondok pesantren modern assuruur pameungpeuk Banjaran Bandung - Jawa Barat

Selasa, 26 Maret 2013

ANTARA PENDIDIKAN & PENGAJARAN

Pengajaran dan pendidikan atau dalam bahasa arabnya taalim dan tarbiah adalah dua perkara penting di dalam membina manusia. Pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda tetapi banyak orang yang tidak faham tentang kedua perkara ini.

Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah dan straight forward. Sedangkan pendidikan adalah pembinaan insan yang tidak saja melibatkan perkara fisik dan mental tetapi juga hati dan nafsu karena sesungguhnya yang dididik adalah hati dan nafsu. Oleh karena itu pendidikan lebih rumit dan susah. Kedua perkara ini harus kita fahami benar dalam membina insan. Keduanya diperlukan dalam pembinaan pribadi agar pandai berbakti pada Tuhan dan pada sesama manusia.

Dalam konteks pendidikan nasional, di negeri ini terdapat dua istilah penting yaitu ‘pendidikan’ dan ‘pengajaran’. Pendidikan dan pengajaran sekilas nampak sama, tetapi sesungguhnya keduanya memiliki konsep yang berbeda. Pendidikan adalah upaya transformasi nilai (value), sedangkan pengajaran lebih kepada upaya transformasi materi ilmu pengetahuan (knowledge).

Jika seorang guru berdiri di depan kelas lalu ia mengajarkan matematika, fisika, bahasa Inggris bahkan bahasa Arab atau materi Al-Quran sekalipun, yang demikian itu disebut mengajar dan itulah proses pengajaran (learning).Namun, tidaklah demikian dengan pendidikan. Mendidik adalah menanamkan nilai-nilai berupa sekumpulan budi pekerti yang tinggi dan akhlak yang luhur. Kaidahnya adalah: “Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami siswa sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan”.

Dengan demikian, guru tidak sekedar mengajarkan materi ilmu pengetahuan saja, namun guru harus bisa menjadi teladan dalam keseluruhan hidupnya; cara jalan, cara berpakaian, tutur kata, sikap mental, sampai kepada cara makan dan cara beribadah, bahkan termasuk cara pandang guru. Itulah pendidikan (education).

Guru yang mengajar sambil merokok di depan kelas, atau guru yang tutur katanya kasar, atau guru yang cara berpakaiannya tidak rapi, atau guru yang memiliki cara pandang jumud, kaku dan intoleran, yang demikian ini adalah contoh guru yang tidak bisa mendidik. Ia bukanlah seorang pendidik, meskipun ia adalah orang yang sangat hebat dalam menyampaikan pelajaran.

Saat ini banyak kita jumpai guru yang tidak mendidik, yaitu guru yang hanya bisa mengajar. Padahal pendidikan itu jauh lebih penting daripada sekedar pengajaran. Di negara-negara maju sekalipun, di Eropa dan Amerika, pendidikan lebih dipentingkan daripada pengajaran. Ringkasnya, membentuk kepribadian siswa jauh lebih penting daripada sekedar menyampaikan pelajaran. Masa depan bangsa ini membutuhkan calon-calon pemimpin yang tidak saja jenius dan cerdas, namun lebih penting lagi calon-calon pemimpin yang berkarakter dan berkepribadian kuat, berakhlakul karimah dan menetapi nilai-nilai agama dan sosial secara konsisten.

Sebagaimana halnya dalam tradisi pondok pesantren modern, demikian halnya yang akan diterapkan di Pondok Modern Assuruur Pameungpeuk Banjaran Bandung, antara pendidikan dan pengajaran harus berjalan berirama, karena ada kaidah yang telah disepakati, yaitu: ”seluruh mata pelajaran harus mengandung pen­didikan akhlak.”
 

Di pesantren konsep pendidikan adalah by doing, bukan by lips. Kiai sebagai figur sentral dan para pengasuh serta guru-guru semuanya menampilkan diri sebagai teladan di hadapan santri-santrinya. Anak-anak akan lebih mudah berubah dengan meniru daripada mendengarkan.Nilai-nilai tentang budi pekerti yang luhur harus lebih banyak dicontohkan, bukan dihabiskan di mimbar kelas atau diceramahkan saja. Maka, jika ada kiai atau pengasuh yang melanggar etika dan norma agama maupun sosial, sebaiknya secepatnya keluar dari pondok karena akan menjadi racun bagi perkembangan mental santri.

Dalam konteks pengajaran di pesantren menganut kaidah: Al-thariqah ahamm min al-maddah, wa al-mudarris ahamm min al-thariqah, waruh al-mudarris ahamm min al-mudarris; metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri. Sehebat apapun materinya jika metode yang digunakannya tidak tepat, maka akan sulit dicerna oleh siswa. Dan secanggih apapun metodenya jika gurunya tidak cukup kapasitas untuk mengajarkannya maka hasilnya akan tidak maksimal. Namun demikian, sehebat apapun metode, materi dan gurunya, jika gurunya tidak memiliki jiwa mendidik, jiwa mengayomi, maka tidak akan pernah bisa melahirkan siswa yang cakap dan berprestasi.

Maka dari itu, ada tiga unsur penting dalam suksesnya sebuah proses pengajaran dan pendidikan, yaitu materi yang berbobot, metode yang tepat dan guru yang memiliki ruh, yaitu jiwa mendidik, membentuk dan membimbing siswa ke arah kebaikan dan kemajuan. Ketiga unsur inilah yang akan dicoba diterapkan secara maksimal di Pondok Modern Assuruur.

Saat ini banyak guru tetapi tidak memiliki jiwa keguruan, sebagaimana halnya banyak pemimpin tetapi sedikit sekali yang memiliki jiwa kepemimpinan. Maka, jadilah guru yang bisa mengajar dan mendidik sekaligus. KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor pernah berpesan: “Kita adalah guru bagi semesta ini, maka jadilah guru yang baik.”


salam admin

Achmad Darodjat, S.Pd.I

Minggu, 24 Maret 2013

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB. 

Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan juga mengalami perkembangan cukup pesat. Konsekwensi logisnya generasi muda muslim dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dan pengetahuan yang memadai agar mampu memenuhi tuntutan zaman dan mengantisipasi dampak negatif yang timbul.

Dengan "akhlak karimah" sebagai landasan berpijak, Pondok Pesantren Modern Assuruur Pameungpuek Banjaran Bandung mendidik para santri untuk menjadi "ulama yang intelek dan dan intelek yang ulama”.
Selain itu, para santri dibekail dengan sains dan teknologi, life skill, dan berbagai ketrampilan praktis ,sehingga mampu  mengimbangi pesatnya kemajuan zaman dan menjadi ummat yang terdepan yang selalu berperan sebagai "pemain" dan bukan hanya sebagai "penonton".

Dengan demikian, lulusan pesantren Assuruur Pameungpuek Banjaran Bandung mampu berkompetisi dengan para lulusan lembaga pendidikan lain dalam semua aspek kehidupan, baik dalam IMTAQ, IPTEK, sains, life skill, maupun akhlak karimah, sehingga mereka mampu mensejajarkan diri dengan para lulusan lembaga pendidikan lain, bahkan selangkah lebih maju dari mereka.

KURIKULUM KMI ASSURUUR 
 
Kurikulum di KMI pondok modern Assuruur Pameungpeuk Baleendah Banjaran Bandung tidak hanya berupa mata pelajaran yang diajarkan di kelas, tetapi mencakup seluruh aktivitas santri, baik ketika di kelas, di asrama, di masjid, di lapangan olahrga dan sebagainya.  Seluruh kegiatan yang dapat  mengantarkan pesantren untuk mencapai tujuan pendidikannya, termasuk kurikulum pesantren. Oleh karena itu, seluruh aktivitas yang diikuti, dilihat, dan didengar oleh santri semuanya tiada lain hanyalah dimaksudkan untuk pendidikan. Prinsip ini diabadikan dalam motto:
كلّ ما تراه وتفعله وتسمعه للتربية
“Semua yang kamu lihat, yang kamu lakukan, dan yang kamu dengar
adalah untuk pendidikan”. 

Kurikulum yang digunakan di KMI  Assuruur Pameungpeuk Banjaran Bandung merupakan syntese dari beberapa kurikulum; yaitu kurikulum Depag, kurikulm Depdiknas, dan kurikulum pondok modern Gontor,. Pelajaran umum, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, ekonomi dan sebagainya, diambil dari kurikulum Depdiknas. Mata pelajaran agama dan bahasa Arab, seperti tafsir, hadits, aqidah, fiqh, tarikh Islam, nahwu, sharaf dan sebagainya, diambil dari kurikulum Gontor dan Depag, Selain itu, dilengkapi dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler dalam beberapa bidang, antara lain: komputerisasi, IT (informasi dan  teknologi), ketrampilan, life skill, kesenian, organisasi, olahraga dan lain-lain.

Sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada,  yaitu KMI 6 tahun, maka kurikulum di pesantren Assuruur diperuntukkan jangka waktu 6 tahun, dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 KMI. Dengan demikian, tidak terdapat dua macam kurikulum di KMI, misalnya kurikulum tingkat SLTP (3 tahun) dan SLTA (3 tahun), tetapi kurikulumnya terpadu untuk KMI 6 tahun.

Konsekwensi logis dari system yang digunakan di KMI ini adalah, santri dinyatakan lulus apabila sudah menamatkan studinya selama 6 tahun di KMI (dari SD/MI), dan atau 3 tahun (dari SMP/MTs.). Ijazah KMI dan ijazah-ijazah lainnya hanya akan diberikan kepada santri yang  telah lulus, yaitu mereka yang telah menamatkan studinya dari kelas 6 KMI.
NIKMATNYA BERJUANG DI JALAN ALLAH 

Berjuang dijalan Allah, dalam bahasa Al Qur’annya Jihad fiisabilillah adalah suatu kegiatan atau aktifitas mulia yang sangat dianjurkan dalam Al-Qur’an. Sayang pengertian Jihad akhir2 ini sering diselewengkan dengan pengertian yang negatif. Ada istilah laskar Jihad, Komando Jihad dan lain sebagainya yang dikaitkan dengan kegiatan teroris, sehingga ada sekelompok orang yang alergi dengan istilah Jihad fiisabililah. Dasar dan perintah untuk melaksanakan Jihad fiisabilillah dapat kita temui dalam surat As Shaf 10-12 :
as-shaf-10-12
10- Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
11- (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
12- niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
(As Shaff 10-12)

Allah memerintahkan orang yang ber-Iman untuk berjihad (berjuang) dijalan Allah dengan harta dan diri mereka. Jika tidak mampu dengan harta dan diri, berjuanglah dengan harta saja atau dengan diri (badan) saja. Orang yang mempunyai harta namun tidak punya waktu silahkan berjuang dengan hartanya. Orang yang tidak punya harta namun mempunyai banyak waktu dan keahlian silahkan berjuang dengan badannya sendiri. Orang yang punya harta akan membiayai orang yang tidak punya harta, sementara para ahli dan orang yang memiliki waktu banyak akan menerima pembiayaan dari para hartawan tersebut, itulah sinergi antara orang yang mempunyai harta dengan orang yang tidak memiliki harta dalam jihad fiisabilillah.
Jihad fiisabilillah bukan hanya berperang melawan musuh atau orang yang kafir, jihad fiisabilillah memiliki pengertian yang lebih luas dari itu. Dalam salah satu peperangan para sahabat mengatakan : Kita baru saja menyelesaikan Jihad yang besar. Rasulullah membantah: Tidak, kita baru saja menyelesaikan jihad yang kecil untuk menghadapi Jihad yang lebih besar, yaitu jihadun nafsi (perjuangan menghadapi hawa nafsu).
Pada dasarnya semua aktifitas dan usaha yang dilaksanakan dalam rangka mencari Ridho Allah, mensiarkan Agama Allah, menegakan kalimat tauhid, memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah, bisa dimasukan kedalam kegiatan jihad fiisabilillah. Semua usaha yang dilakukan seseorang dalam rangka jihad fiisabilillah adalah untuk kemaslahatan diri mereka sendiri, bukan untuk Allah. Allah maha kaya, dia tidak butuh kepada manusia. Ia tetap sebagai penguasa alam semesta walaupun manusia tidak menyembahNya, ini dinyatakan Allah dalam firmanNya pada surat Al Ankabut ayat 6 :

alankabut-6

6- Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Al Ankabut 6)
Allah akan membebaskan orang yang melakukan jihad dijalan-Nya dari azab yang pedih dan berbagai kesulitan, mengampuni dosa dosanya dan memasukan mereka kedalam taman syurga yang mengalir sungai sungai dibawanya sebagaimana disebutkan dalam surat As-Shaf diatas. Para sahabat dizaman Rasululah sangat mencintai kegiatan Jihad fiisabilillah ini, mereka bersungguh sunguh berjuang dijalan Allah dengan harta dan diri mereka.
Di Negra Indonesia tercinta yang saat ini tidak terlibat peperangan dengan musuh ataupun orang kafir, banyak hal yang bisa kita kerjakan dalam rangka Jihad fiisabilillah. Di mulai dari diri dan keluarga kita masing masing. Usaha untuk membebaskan diri dan keluarga dari jerat kemiskinan, kebodohan, ketakutan, kegelisahan, yang dilakukan karena Allah sudah merupakan jihad fiisabilillah. Bekerja, berniaga, untuk membebaskan diri dari jerat kemiskinan, menuntut ilmu atau mengajar yang dilakukan untuk membebaskan diri dan lingkungan dari kebodohan serta berusaha meraih jabatan atau kekuasaan dalam rangka mengamankan diri dan lingkungan jika dilakukan karena Iman dan mencari ridho Allah juga sudah termasuk dalam kegiatan jihad fiisabilillah. Semua aktifitas sehari hari yang dilakukan dalam rangka mencari karunia dan ridho Allah, yang dilakukan dengan harta saja, badan saja atau dengan harta dan badan merupakan kegiatan jihad fiisabilillah, yang insya Allah akan mendapatkan balasan sesuai dengan janji-Nya dalam surat As Shaf diatas.
Berjihad di jalan Allah dengan harta
Para sahabat dizaman Rasulullah sangat mencintai kegiatan jihad fiisabilillah. Umar bin Khatab ra meriwayatkan bahwa pada satu ketika Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk berinfak dijalan Allah membiayai peperangan melawan kaum Musyrikin Mekah. Umar berfikir biasanya Abubakar ra selalu berinfak lebih besar dari dirinya. Ia kembali kerumah dan berniat ingin mengalahkan Abu bakar dalam berinfak. Umar menyisihkan separuh hartanya untuk keluarganya dan membawa yang separuh lagi untuk diberikan kepada Rasulullah. Nabi saw bertanya kepada Umar : Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu ya Umar? . “ Ada ya Rasululah” jawab Umar. Nabi saw bertanya lagi : ”Berapa banyak yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Umar menjawab:” Saya tinggalkan untuk keluargaku separuh dari harta saya”. Kemudian datanglah Abubakar ra, Nabi saw bertanya : ”Wahai Abubakar, apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Abubakar menjawab:”Saya tinggalkan bagi keluargaku Allah dan RasulNya”. Maksudnya Abubakar telah menginfakkaan semua hartanya untuk keperluan jihad fiisabilillah, dan meninggalkan keluarganya bersama Allah dan RasulNya. Umar bi Khatab tercengang dan berkata: ” Aku tidak akan dapat mengalahkan amal Abubakar .
Abu Thalhah ra adalah seorang anshar yang memiliki kebun kurma terbanyak dan terbesar di Madinah. Salah satu kebunnya yang terbesar bernama “Biruha”. Kebun inilah yang paling disukainya, letaknyapun berdekatan dengan Masjid Nabawi, airnyapun mudah diperoleh dan mengalir dengan deras. Kebun ini aman dari gangguan, Rasulullahpun sering mampir duduk dan minum air dikebun tersebut. Pada satu ketika turunlah surat Ali Imran ayat 92 sebagai berikut:
aliimran-92
Tatkala mendengar ayat tersebut, Abu Thalha ra langsung menemui Rasulullah dan berkata: ” Ya Rasulullah, yang paling saya cintai adalah kebun “Biruha”dan Allah telah berfirman bahwa kita belum akan mendapat kebajikan sebelum menafkahkan apa yang paling kita cintai dijalan Allah. Saya ingin menginfakkan kebun saya ini untuk fiisabilillah”. Rasulullah berkata: ” Sungguh ini suatu yang menggembirakan, banyak orang yang memerlukan harta ini”. Rasulullah menyarankan Abu Talhah untuk membagikan hartanya itu kepada karib kerabatnya yang membutuhkan. Demikianlah Abu Talhah kemudian membagikan kebunnya itu kepada karib kerabatnya yang masih hidup dalam kemiskinan.
Mudah-mudahahan banyak diantara kita yang telah diberikan Allah nikmat harta cukup dan berlimpah terketuk hatinya untuk berinfak menyumbangkan hartanya dijalan Allah sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat diatas. Allah tidak akan pernah menjadikan orang yang rajin berinfak dan bersedekah menjadi miskin dan papa karenanya. Bahkan Allah telah banyak memperlihatkan betapa para hartawan yang kikir tidak mau berinfak dijalan Allah akhirnya jatuh bangkrut dan hidup dalam kehinaan. Allah akan melipat gandakan pahala orang yang berinfak sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah 261 :
albaqarah261
261- Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.( Al Baqarah 261)
Infak dan sodaqoh adalah pupuk yang akan menyuburkan harta orang mukmin, Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Apa yang dijanjikan Allah pasti dipenuhi.
Berjihad dengan badan dan diri
Banyak orang yang ingin ikut berjuang dijalan Allah, namun apa daya mereka tidak punya harta yang cukup untuk diinfakan. Berjuang dijalan Allah tidak terbatas hanya dengan harta saja. Setiap orang bisa berjuang dijalan Allah dengan fisik dan badan saja. Usaha beribadah, mendekatkan diri pada Allah dengan kegiatan sholat, puasa, dzikir, tasbih, menuntut ilmu, bekerja dan berniaga, berdakwah, menegakkan syi’ar Agama dan lain lain merupakan kegiatan jihad dengan badan yang tidak memerlukan biaya besar. Betapun miskinnya seseorang, ia bisa melakukan kegiatan tersebut.
Mereka bisa saja mejalankan kegiatan jihad seperti berdakwah, mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu lainnya, menegakkan syi’ar Islam yang memerlukan dana dengan biaya sendiri atau dari saudaranya yang memiliki harta cukup. Disinilah diperlukannya hidup bermasyarakat dan berjamaah dalam Islam. Saling tolong menolong dalam melakukan kegiatan jihad fiisabilillah. Allah sangat mencintai orang yang bekerjasama bahu membahu dalam melakukan kegiatan jihad fiisabilillah sebagaimana disebutkan dalam surat As Shaff 4:
asshaf4
4- Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.(As Shaff 4)
Dewasa ini banyak kita temui para Ustadz dan Mubaligh yang berjuang menyampaikan dakwah, tertatih tatih dengan biaya seadanya. Mereka berjuang dengan badan dan dirinya sekuat yang bisa mereka lakukan, kadangkala mereka kelelahan . Ketika mereka atau salah satu anggota keluarga mereka menderita sakit mereka kesulitan memenuhi biaya untuk berobat diri maupun keluarganya. Sungguh berbeda dengan para pendeta dari agama lainnya yang mendapat dukungan dana yang kuat dari umatnya. Para ustadz dan Mubaligh kita didaerah tertinggal dan daerah pedalaman harus berjuang dengan kesanggupan sendiri, bersaing dengan para pendeta yang didukung dengan dana yang kuat dari umatnya.
Dalam melaksanakan kegiatan dakwah sebenarnya sangat dibutuhkan sinergi antara mereka yang mempunyai harta dengan mereka yang hanya memiliki ilmu dan keterampilan. Jika kekuatan ini bisa digabungkan insya Allah kemashlahatannya akan bisa kita nikmati bersama.
Berjuang dijalan Allah dengan harta dan diri
Tidak banyak orang yang bisa melakukan kegiatan ini. Kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu, keterampilan dan harta cukup. Ia bisa berjuang dengan harta dan dirinya, tidak bergantung pada bantuan dan pertolongan orang lain. Bahkan mereka yang memiliki kemampuan leadership mampu menggerakan orang lain dengan harta dan keterampilan (ilmu) yang dimilikinya nya untuk berjuang dijalan Allah.
Kita juga banyak menemukan orang yang telah mapan dari segi ekonomi dan keilmuannya, yang berjuang dijalan Allah dengan harta dan dirinya. Mereka cukup disegani oleh lawan dan kawan. Kita kenal beberapa tokoh yang memiliki tahap kehidupan cukup namun mereka juga gigih dalam usaha dakwah dan syi’ar Islam. Ambil saja contoh seperti Dr Ary Ginanjar dengan ESQnya, Ust H Yusuf Mansyur dengan wisata Rohaninya, KH AA Gym dengan Darut Tauhidnya, KH Arifin Ilham dengan Dzikirnya, dan banyak lagi tokoh lainnya.
Berjuang dijalan Allah melalui blog
Disamping berdakwah dengan lisan, kita bisa berdakwah dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik. Banyak teman teman yang berjuang dengan memanfaatkan media cetak, menerbitkan majalah dan koran yang bernuansa dakwah seperti majalah Sabili, Hidayatullah, harian Republika dan lain sebagainya. Banyak juga yang berdakwah dengan memanfatkan sarana Siaran radio, namun sayang belum ada yang mampu mendirikan stasiun TV sendiri untuk media dakwah.
Salah satu media elektronik yang dapat dimanfaatkan untuk media dakwah adalah WEB dan Blog. Banyak juga diantara saudara kita yang berusaha membuat blog dakwah, menyampaikan ajaran Islam melalui media internet. SALAH SATU FUNGSI DARI BLOG INI adalah salah satu media dakwah yang kami buat memanfaatkan teknologi dunia maya pada dewasa ini.
PHOTO-PHOTO KEGIATAN DI PONDOK PESANTREN MODERN ASSURUUR 


Gedung PBM (Proses Belajar Mengajar)

Bangunan Utama di  Pondok Pesantren Modern Assuruur Pameugnpeuk ini merupakan sentral dari segala kegiatan santri, baik berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar mengajar, maupun digunakan untuk kegiatan lainnya. Bangunan berlantai dua ini merupakan wakaf dari para dermawan yang peduli pada proses pendidikan yang ada di pondok pesantren modern  Assuruur, untuk mencerdaskan dan membina santrinya dalam bidang keagamaan dan bidang keilmuan umum lainnya. Diharapkan dengan sarana ini pesantren dapat  menghasilkan lulusan yang berkualitas baik IMTAQ maupun  IPTEK nya, sehingga  menjadi SDM yang dapat bersaing dengan sekolah lain dalam segala hal yang positif.

Di samping  untuk ruang belajar, bangunan ini juga digunakan sebagai perkantoran direktur KMI, kepala sekolah tingkat SLTP, kepala sekolah tingkat SLTA, ruang TU, dan kantor guru. Selain itu juga digunakan sebagai ruang laboratorium bahasa dan laboratorium komputer. Berbagai kegiatan dipusatkan di gedung ini dengan harapan dapat memudahkan proses pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan pesantren, karena lokasinya berada di satu tempat yang terpadu.

Modal awal pembangunan gedung ini berasal ........................... Dalam proses pembangunan, banyak sumbangan dari para dermawan yang dihimpun, baik dari .............................................................,  mupun dari kaum muslimin yang lain. Dengan dimilikinya gedung ini proses pendidikan dan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan masksimal sehingga para santri diharapkan menjadi generasi yang memiliki iman yang kuat, taqwa yang mantap, iptek yang handal, life skill yang memadai, dan akhlak yang mulia.