NIKMATNYA BERJUANG DI JALAN ALLAH
Berjuang dijalan Allah, dalam bahasa Al Qur’annya Jihad
fiisabilillah adalah suatu kegiatan atau aktifitas mulia yang sangat
dianjurkan dalam Al-Qur’an. Sayang pengertian Jihad akhir2 ini sering
diselewengkan dengan pengertian yang negatif. Ada istilah laskar Jihad,
Komando Jihad dan lain sebagainya yang dikaitkan dengan kegiatan
teroris, sehingga ada sekelompok orang yang alergi dengan istilah Jihad fiisabililah. Dasar dan perintah untuk melaksanakan Jihad fiisabilillah dapat kita temui dalam surat As Shaf 10-12 :

10-
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
11- (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
12-
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke
tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang
besar.
(As Shaff 10-12)
Allah
memerintahkan orang yang ber-Iman untuk berjihad (berjuang) dijalan
Allah dengan harta dan diri mereka. Jika tidak mampu dengan harta dan
diri, berjuanglah dengan harta saja atau dengan diri (badan) saja. Orang
yang mempunyai harta namun tidak punya waktu silahkan berjuang dengan
hartanya. Orang yang tidak punya harta namun mempunyai banyak waktu dan
keahlian silahkan berjuang dengan badannya sendiri. Orang yang punya
harta akan membiayai orang yang tidak punya harta, sementara para ahli
dan orang yang memiliki waktu banyak akan menerima pembiayaan dari para
hartawan tersebut, itulah sinergi antara orang yang mempunyai harta
dengan orang yang tidak memiliki harta dalam jihad fiisabilillah.
Jihad
fiisabilillah bukan hanya berperang melawan musuh atau orang yang
kafir, jihad fiisabilillah memiliki pengertian yang lebih luas dari itu.
Dalam salah satu peperangan para sahabat mengatakan : “Kita baru saja menyelesaikan Jihad yang besar”. Rasulullah membantah: “Tidak,
kita baru saja menyelesaikan jihad yang kecil untuk menghadapi Jihad
yang lebih besar, yaitu jihadun nafsi (perjuangan menghadapi hawa nafsu)”.
Pada dasarnya semua aktifitas dan usaha yang dilaksanakan dalam rangka mencari Ridho Allah, mensiarkan
Agama Allah, menegakan kalimat tauhid, memperbaiki diri dan mendekatkan
diri kepada Allah, bisa dimasukan kedalam kegiatan jihad fiisabilillah.
Semua usaha yang dilakukan seseorang dalam rangka jihad fiisabilillah
adalah untuk kemaslahatan diri mereka sendiri, bukan untuk Allah. Allah
maha kaya, dia tidak butuh kepada manusia. Ia tetap sebagai penguasa
alam semesta walaupun manusia tidak menyembahNya, ini dinyatakan Allah dalam firmanNya pada surat Al Ankabut ayat 6 :
6-
Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah
untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Al Ankabut 6)
Allah
akan membebaskan orang yang melakukan jihad dijalan-Nya dari azab yang
pedih dan berbagai kesulitan, mengampuni dosa dosanya dan memasukan
mereka kedalam taman syurga yang mengalir sungai sungai dibawanya
sebagaimana disebutkan dalam surat As-Shaf diatas. Para sahabat dizaman
Rasululah sangat mencintai kegiatan Jihad fiisabilillah ini, mereka
bersungguh sunguh berjuang dijalan Allah dengan harta dan diri mereka.
Di
Negra Indonesia tercinta yang saat ini tidak terlibat peperangan dengan
musuh ataupun orang kafir, banyak hal yang bisa kita kerjakan dalam
rangka Jihad fiisabilillah. Di mulai dari diri dan keluarga kita masing
masing. Usaha
untuk membebaskan diri dan keluarga dari jerat kemiskinan, kebodohan,
ketakutan, kegelisahan, yang dilakukan karena Allah sudah merupakan
jihad fiisabilillah. Bekerja, berniaga, untuk membebaskan diri dari
jerat kemiskinan, menuntut ilmu atau mengajar yang dilakukan untuk
membebaskan diri dan lingkungan dari kebodohan serta berusaha meraih
jabatan atau kekuasaan dalam rangka mengamankan diri dan lingkungan jika
dilakukan karena Iman dan mencari ridho Allah juga sudah termasuk dalam
kegiatan jihad fiisabilillah. Semua aktifitas sehari hari yang
dilakukan dalam rangka mencari karunia dan ridho Allah, yang dilakukan
dengan harta saja, badan saja atau dengan harta dan badan merupakan
kegiatan jihad fiisabilillah, yang insya Allah akan mendapatkan balasan
sesuai dengan janji-Nya dalam surat As Shaf diatas.
Berjihad di jalan Allah dengan harta
Para
sahabat dizaman Rasulullah sangat mencintai kegiatan jihad
fiisabilillah. Umar bin Khatab ra meriwayatkan bahwa pada satu ketika
Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk berinfak dijalan Allah membiayai
peperangan melawan kaum Musyrikin Mekah. Umar berfikir biasanya
Abubakar ra selalu berinfak lebih besar dari dirinya. Ia kembali kerumah
dan berniat ingin mengalahkan Abu
bakar dalam berinfak. Umar menyisihkan separuh hartanya untuk
keluarganya dan membawa yang separuh lagi untuk diberikan kepada
Rasulullah. Nabi saw bertanya kepada Umar : “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu ya Umar?” . “ Ada ya Rasululah” jawab Umar. Nabi saw bertanya lagi : ”Berapa
banyak yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Umar menjawab:” Saya
tinggalkan untuk keluargaku separuh dari harta saya”. Kemudian datanglah
Abubakar ra, Nabi saw bertanya : ”Wahai
Abubakar, apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Abubakar
menjawab:”Saya tinggalkan bagi keluargaku Allah dan RasulNya”. Maksudnya
Abubakar telah menginfakkaan semua hartanya untuk keperluan jihad
fiisabilillah, dan meninggalkan keluarganya bersama Allah dan RasulNya.
Umar bi Khatab tercengang dan berkata: ” Aku tidak akan dapat mengalahkan amal Abubakar “.
Abu
Thalhah ra adalah seorang anshar yang memiliki kebun kurma terbanyak
dan terbesar di Madinah. Salah satu kebunnya yang terbesar bernama
“Biruha”. Kebun inilah yang paling disukainya, letaknyapun berdekatan
dengan Masjid Nabawi, airnyapun mudah diperoleh dan mengalir dengan
deras. Kebun ini aman dari gangguan, Rasulullahpun sering mampir duduk dan minum air dikebun tersebut. Pada satu ketika turunlah surat Ali Imran ayat 92 sebagai berikut:

Tatkala mendengar ayat tersebut, Abu Thalha ra langsung menemui Rasulullah dan berkata: ”
Ya Rasulullah, yang paling saya cintai adalah kebun “Biruha”dan Allah
telah berfirman bahwa kita belum akan mendapat kebajikan sebelum
menafkahkan apa yang paling kita cintai dijalan Allah. Saya ingin
menginfakkan kebun saya ini untuk fiisabilillah”. Rasulullah berkata: ”
Sungguh ini suatu yang menggembirakan, banyak orang yang memerlukan
harta ini”. Rasulullah menyarankan Abu Talhah untuk membagikan hartanya
itu kepada karib kerabatnya yang membutuhkan. Demikianlah
Abu Talhah kemudian membagikan kebunnya itu kepada karib kerabatnya yang
masih hidup dalam kemiskinan.
Mudah-mudahahan banyak diantara kita yang telah diberikan Allah nikmat
harta cukup dan berlimpah terketuk hatinya untuk berinfak menyumbangkan
hartanya dijalan Allah sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat
diatas. Allah tidak akan pernah menjadikan orang yang rajin berinfak dan
bersedekah menjadi miskin dan papa karenanya. Bahkan Allah telah banyak
memperlihatkan betapa para hartawan yang kikir tidak mau berinfak
dijalan Allah akhirnya jatuh bangkrut dan hidup dalam kehinaan. Allah
akan melipat gandakan pahala orang yang berinfak sebagaimana disebutkan
dalam surat Al Baqarah 261 :
261- Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.( Al Baqarah 261)
Infak
dan sodaqoh adalah pupuk yang akan menyuburkan harta orang mukmin,
Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Apa yang dijanjikan Allah pasti
dipenuhi.
Berjihad dengan badan dan diri
Banyak orang yang ingin ikut berjuang dijalan Allah, namun apa daya mereka tidak punya harta yang cukup untuk diinfakan. Berjuang
dijalan Allah tidak terbatas hanya dengan harta saja. Setiap orang bisa
berjuang dijalan Allah dengan fisik dan badan saja. Usaha beribadah,
mendekatkan diri pada Allah dengan kegiatan sholat, puasa, dzikir,
tasbih, menuntut ilmu, bekerja dan berniaga, berdakwah, menegakkan
syi’ar Agama dan lain lain merupakan kegiatan jihad dengan badan yang
tidak memerlukan biaya besar. Betapun miskinnya seseorang, ia bisa
melakukan kegiatan tersebut.
Mereka bisa
saja mejalankan kegiatan jihad seperti berdakwah, mengajarkan Al-Qur’an
dan ilmu lainnya, menegakkan syi’ar Islam yang memerlukan dana dengan
biaya sendiri atau dari saudaranya yang memiliki harta cukup. Disinilah
diperlukannya hidup bermasyarakat dan berjamaah dalam Islam. Saling
tolong menolong dalam melakukan kegiatan jihad fiisabilillah. Allah
sangat mencintai orang yang bekerjasama bahu membahu dalam melakukan
kegiatan jihad fiisabilillah sebagaimana disebutkan dalam surat As Shaff
4:
4-
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya
dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan
yang tersusun kokoh.(As Shaff 4)
Dewasa
ini banyak kita temui para Ustadz dan Mubaligh yang berjuang
menyampaikan dakwah, tertatih tatih dengan biaya seadanya. Mereka
berjuang dengan badan dan dirinya sekuat yang bisa mereka lakukan,
kadangkala mereka kelelahan . Ketika mereka atau salah satu anggota
keluarga mereka menderita sakit mereka kesulitan
memenuhi biaya untuk berobat diri maupun keluarganya. Sungguh berbeda
dengan para pendeta dari agama lainnya yang mendapat dukungan dana yang
kuat dari umatnya. Para ustadz dan Mubaligh kita didaerah tertinggal dan
daerah pedalaman harus berjuang dengan kesanggupan sendiri, bersaing
dengan para pendeta yang didukung dengan dana yang kuat dari umatnya.
Dalam melaksanakan kegiatan dakwah sebenarnya sangat dibutuhkan sinergi
antara mereka yang mempunyai harta dengan mereka yang hanya memiliki
ilmu dan keterampilan. Jika kekuatan ini bisa digabungkan insya Allah
kemashlahatannya akan bisa kita nikmati bersama.
Berjuang dijalan Allah dengan harta dan diri
Tidak
banyak orang yang bisa melakukan kegiatan ini. Kegiatan tersebut hanya
bisa dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu, keterampilan dan harta
cukup. Ia bisa berjuang dengan harta dan dirinya, tidak
bergantung pada bantuan dan pertolongan orang lain. Bahkan mereka yang
memiliki kemampuan leadership mampu menggerakan orang lain dengan harta
dan keterampilan (ilmu) yang dimilikinya nya untuk berjuang dijalan
Allah.
Kita
juga banyak menemukan orang yang telah mapan dari segi ekonomi dan
keilmuannya, yang berjuang dijalan Allah dengan harta dan dirinya.
Mereka cukup disegani oleh lawan dan kawan. Kita kenal beberapa tokoh
yang memiliki tahap kehidupan cukup namun mereka juga gigih dalam usaha
dakwah dan syi’ar Islam. Ambil saja contoh seperti Dr Ary Ginanjar
dengan ESQnya, Ust H Yusuf Mansyur dengan wisata Rohaninya, KH AA Gym
dengan Darut Tauhidnya, KH Arifin Ilham dengan Dzikirnya, dan banyak lagi tokoh lainnya.
Berjuang dijalan Allah melalui blog
Disamping
berdakwah dengan lisan, kita bisa berdakwah dengan memanfaatkan media
cetak dan elektronik. Banyak teman teman yang berjuang dengan
memanfaatkan media cetak, menerbitkan majalah dan koran yang bernuansa
dakwah seperti majalah Sabili, Hidayatullah, harian Republika dan lain
sebagainya. Banyak juga yang berdakwah dengan memanfatkan sarana Siaran
radio, namun sayang belum ada yang mampu mendirikan stasiun TV sendiri
untuk media dakwah.
Salah satu media elektronik yang dapat dimanfaatkan untuk media dakwah adalah WEB dan Blog. Banyak
juga diantara saudara kita yang berusaha membuat blog dakwah,
menyampaikan ajaran Islam melalui media internet. SALAH SATU FUNGSI DARI BLOG INI adalah
salah satu media dakwah yang kami buat memanfaatkan teknologi dunia
maya pada dewasa ini.